Pembelajaran Multikultural Pada Mata Pelajaran di Sekolah

Analisis Pembelajaran Multikultural pada Pelajaran Sosiologi di SMA

Pendahuluan
Multikultural adalah keadaan masyarakat lndonesia. Namun bangsa lndonesia kadang belum dapat hidup secara multikultural, hal itu terlihat dengan adanya konflik antar suku, masyarakat yang kadang belum dapat hidup berdampingan dengan kelompok yang berbeda, masih adanya stereotipe dan prasangka. Dengan kondisi masyarakat lndonesia yang demikian itu maka multikulturalis adalah kebutuhan. Merujuk yang dikemukakan Parekh, dalam Kamanto dkk (2004; 1), multikulturalisme meliputi tiga hal, pertama multikulturalisme berkenaan dengan budaya, kedua, merujuk pada keragaman yang ada, dan ketiga, berkenaan dengan tindakan spesifik pada respon terhadap keragaman tersebut.
Salah satu cara pembentukan multikulturalisme adalah melalui pendidikan. Pendidikan multikultural dapat didefinisikan sebagai pendidikan untuk atau tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan (Hanum, 2008).
Kamanto (2004; 47) mengutip Azra dan Saifuddin, menunjukkan bahwa pendidikan multikultural adalah konsep yang luas, yang mencakup formal, non-formal maupun pendidikan informal. Pendidikan multikultural tidak terbatas pada pendidikan di sekolah (Kamanto, 2004 ; 47).
Salah satu pendidikan adalah melalui sekolah, sehingga salah satu cara mengajarkan multikulturalisme yang jelas menurut saya ialah melalui pendidikan formal di sekolah. Dalam pendidikan yang dilakukan melalui sekolah, hakekat pendidikan adalah membentuk karakter dan sikap peserta didik. Oleh karena itu diharapkan melalui pembelajaran multikulturalisme diharapkan peserta memahami dan menyadari keberagaman yang ada, kemudian mempunyai pemahaman bagaimana menghadapi keadaan yang multikultural.

Pendidikan Multikulturalisme
Undang-Undang Sisdiknas No.20 Th.2003 memberi gambaran ruang gerak untuk terselenggaranya pendidikan nasional yang sesuai dengan latar belakang budaya dan kebhinekaan bangsa Indonesia. Dengan melihat hal tersebut sebenarnya dapat dikatakan bahwa multikultural menjadi landasan dalam penyelenggaraan pendidikan. Calarry Sada dengan mengutip Sleeter dan Grant dalam Kamanto dkk (2004; 85), menjelaskan bahwa pendidikan multikultural memiliki empat model, yakni, (1) pengajaran tentang keragaman budaya dengan pendekatan asimilasi, (2) pendekatan hubungan sosial dengan meningkatkan hubungan interpersonal, (3) satu kelompok siswa untuk memperkenalkan pluralisme budaya dengan kesadaran sendiri dan (4) pendidikan multikultural dengan kurikulum reguler untuk merefleksikan perbedaan dengan mengajarkan pluralisme dan kesetaraan.
Pendidikan multikultural dapat dijalankan jika para pengajar, pimpinan, civitas sekolah dan kampus memiliki sikap multikultural serta memiliki kemampuan dalam melaksanakan dengan tepat. Hal ini juga akan menjadi tantangan, sebab sekolah-sekolah umumnya belum dapat bebas dari stereotipe dan prasangka (prejudice) yang bersumber dari rasa primordialisme kesukuan, keagamaan dan kelas sosial (Hanum 2008). Menurut Hermandez (Semiawan, 2004 ; 41) ada empat pendekatan yang dapat dilakukan untuk menerapkan pendidikan multikultural, yaitu pendekatan kontribusi, pendekatan tambahan, pendekatan transformasi, dan pendekatan aksi sosial.

Multikulturalisme dalam Pelajaran Sekolah
Salah satu cara menagajarkan multikulturalisme dalam pendidikan ialah melalui proses pembelajaran yang berbasis multikulturalisme, proses belajar mengajar, dan masuk dalam kurikulum pelajaran. Sebenarnya dewasa ini dalam perkembangannya sudah berlangsung pembelajaran yang berbasis multikulturalisme pada berbagai jenjang mulai TK sampai SMA. Pembelajaran multikulturalisme masuk dalam kurikulum, baik yang tersurat maupun tersirat pada mata pelajaran. Muatan multikulturalisme terdapat pada mata pelajaran seperti IPS, Sejarah, Sosiologi, Kewarganegaraan, Antropologi (kelas bahasa). Kewarganegaraan lebih mengajarkan bagaimana bersikap sebagai warga negara. IPS memberikan pemahaman secara sosial, sejarah menceritakan keragaman masyarakat lndonesia dari masa lalu dan akibat yang ditimbulkan bila kurang menghargai perbedaan serta memaksakan kehendak seperti pemberontakan kepada negara.

Multikulturalisme pada Pelajaran Sosiologi SMA
Garis besar materi pelajaran sosiologi bagi siswa SMA menyebutkan bahwa fungsi pelajaran sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dalam realitas sosial dan budaya yang bermacam-macam atas dasar etika, nilai dan norma, serta tujuan praktisnya meliputi pengembangan keterampilan perilaku, sikap kritis, dan rasional siswa dalam menghadapi berbagai macam situasi sosial, kebudayaan, masyarakat dan masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari (Kurikulum dan RPP).
Pelajaran sosiologi di tingkat SMA diberikan pada kelas X, kelas Xl lPS dan kelas XlI IPS, sedangkan pada jurusan IPA sosiologi tidak diberikan, dengan melihat apa yang dipelajari, sosiologi di jurusan IPA sebaiknya juga diberikan. Materi pokok mata pelajaran sosiologi dalam kurikulum KBK yaitu pada kelas satu sosiologi dan antropologi sebagai ilmu tentang perilaku sosial dalam masyarakat, interaksi sosial dalam dinamika sosial-budaya, sosialisasi dan pembentukan kepribadian, perilaku menyimpang dan pengendalian sosial. Pada kelas dua konflik dan integrasi sosial, deferensi dan stratifikasi sosial, konsekuensi bentuk-bentuk struksur sosial terhadap konflik dan integrasi sosial, dinamika kebudayaan, kehidupan masyarakat multiklutural. Kelas tiga, dinamika kebudayaan, perubahan sosial budaya, penelitian sosial-budaya. Pelajaran Sosiologi sendiri dikatakan sebagai mempelari masyarakat dan kebudayaan, hal itu bisa dilihat dari beberapa judul buku pelajaran sosiologi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pelajaran sosiologi merupakan pelajaran untuk menghadapi multikultural.

Multikulturalis dalam Teks Buku Pelajaran
Pembelajaran di sekolah menggunakan buku pelajaran. Buku pelajaran menjadi penting karena sebagai bahan bacaan, sumber acuan, sumber belajar siswa dan pegangan guru dalam mengajar. Oleh karena itu untuk melihat bagaimana pembelajaran multikulturalisme di sekolah bisa melihat bagaimana multikulturalisme pada buku pelajaran.
Ketika diadakan evaluasi pada buku teks sekolah, rancangan materi dan juga butir butir pada soal ujian nasional, ditemukan banyak indikasi yang mengarah pada pentingnya pendidikan multikultural (Kamanto 2004 ;52). Isi dari materi itu seringkali menunjukkan adanya bias dalam etnis, agama, dan gender dari sisi penulis (Kamanto 2004 ; 52). Seperti, seringkali kita mendapati bias agama dan etnis pada pemilihan nama dalam teks dan ilustrasi, bias gender dalam hal gambaran peranan masing-masing gender, dan bias perkotaan dan pedesaan dalam penggambaran kejadian, tempat, dan organisasi (Kamanto 2004 ;52). Oleh karena itu untuk membentuk pendidikan multikulturalisme melalui sekolah, buku pelajaran menjadi penting, isi buku pelajaran harus mencerminkan multikulturalisme. Apalagi isi buku pelajaran yang membahas atau mengandung topik multikultural.

Analisis Teks Multikulturalis Buku Pelajaran Sosiologi

Buku utama yang digunakan sebagai analisis adalah Sosiologi untuk SMA kelas Xl, karangan Idianto M, yang diterbitkan penerbit Erlangga tahun 2005. Buku tersebut menggunakan kurikulum KBK 2004. Dalam kurikulum KBK 2004, pada mata pelajaran sosiologi, masyarakat multikultural merupakan pokok bahasan yang terletak di kelas dua semester dua. Kurikulum KBK, dalam pembelajaran menekankan pada aspek kognitif, psikomotorik, afektif.
Buku ini yang dipilih karena dibandingkan buku yang lain sejenis merupakan buku yang cukup bagus. Buku ini juga saya pakai ketika belajar di SMA. Selain itu buku-buku terbitan penerbit erlangga dianggap sebagai buku yang relatif bagus dibandingkan dengan buku terbitan penerbit lain. Dengan tiga buku pembanding yaitu Sosiologi untuk SMA dan MA kelas XI karangan Budiyono tahun 2009, Sosiologi 2:untuk SMA dan MA Kelas XI IPS karangan Wida Widianti, terbitan tahun 2009 dan Sosiologi 2 : untuk SMA dan MA Kelas XI karangan Bondet Wrahatnala tahun 2009. Ketiga buku tersebut merupakan buku BSE, yaitu buku yang hak ciptanya dibeli departemen pendidikan nasional sehingga bisa di download secara gratis. Ketiga buku tersebut menggunakan kurikulum KTSP 2006. Pada kurikulum KTSP, dimana sekolah, lokal, daerah diberi kewenangan lebih dalam menentukan pembelajaran yang diberikan. Secara isi materi kurikulum KTSP tidak banyak berubah dari kurikulum KBK. Yang akan digunakan untuk analisis adalah pada mata pelajaran sosiologi pada kelas Xl atau kelas dua. Pada kurikulum KBK dan KTSP, multikulturalisme dalam mata pelajaran sosiologi, dibahas dalam bahasan masyarakat multikultural. Yang dianalisis adalah pada pembelajaran masyarakat multikultural.

Buku Utama
Pada buku tersebut, pada bagian awal buku dicantumkan kompentensi dasar, kompetensi dasar pokok bahasan masyarakat multikultural yaitu 1.5 Kemampuan mengembangkan sikap dalam masyarakat multikultural dengan empat indikator yaitu memberi contoh tentang masalah-masalah yang ditimbulkan oleh keanekaragaman dan perubahan kebudayaan, mengungkapkan alternatif pemecahan masalah yang ditimbulkan oleh keanekaragaman dan perubahan kebudayaan berdasarkan potensi lokal dan nasional, menentukan sikap kritis terhadap hubungan keanekaragaman dan perubahan kebudayaan, mengembangkan sikap toleransi dan empati sosial terhadap hubungan keanekaragaman dan perubahan kebudayaan ( ldianto M, 2005 :viii)
Pada bagian sebelum uraian bab, dijelaskan hal-hal yang akan dipelajari di bab ini, yaitu masyarakat multikultural, masalah yang timbul akibat keanekaragaman dan perubahan kebudayaan serta alternatif pemecahannya, sikap yang diperlukan dalam hubungan keanekaragaman dan perubahan kebudayaan(Idianto M, 2005 ; 151).
Pada buku ini bahasan masyarakat multikultural terbagi dalam lima sub pokok bahasan yaitu; A. Masyarakat multikultural, B. masalah yang timbul akibat keanekaragaman dan perubahan kebudayaan, C. alternatif pemecahan masalah yang ditimbulkan oleh keanekaragaman dan perububahan budaya, D. sikap kritis, toleransi, dan empati sosial terhadap hubungan keanekaragaman dan perubahan kebudayaan(Idianto M, 2005 ; 152-170). Pembahasan diawali dengan pengertian masyarakat multikultural, masyarakat lndonesia yang multikultural, latar belakang kemajemukan bangsa lndonesia. Pada bagian B, yang dijelaskan adalah konflik, integrasi, disintegrasi, reintegrasi (Idianto M, 2005 ; 158-166). Alternatif pemecahan masalah yang ditawarkan, asimilasi, self-segregation, integrasi, pluralisme. Pada bagian akhir dijelaskan sikap kritis yang harus dikembangkan(Idianto M, 2005 ; 167-169).
Pembahasan pada buku tersebut mengikuti alur pola pikir pemberian pengertian multikultural, kemudian bahwa masyarakat bahwa bangsa lndonesia yang multikultural, dan faktor yang mengakibatkan masyarakat lndonesia multikultural.
Untuk menjelaskan tentang masyarakat multikultural buku ini mengutip tiga pendapat ahli yaitu Furnifal, Nasikun, Van den Berg. Menurut penjelasan buku ini perbedaan secara horozontal yaitu perbedaan fisik atau ras, perbedaan suku bangsa, perbedaan agama, perbedaan jenis kelamin, dan perbedaan secara vertikal yaitu stratifikasi sosial (Idianto M, 2005 ; 154-156). Kemudian dijelaskan latar belakang kemajemukan bangsa lndonesia yaitu latar belakang historis, kondisi geografis dan keterbukaan terhadap dunia luar(Idianto M, 2005 ; 156-158).
Pada bagian selanjutnya memberikan pengertian bahwa keanekaragaman dapat menimbulkan fenomena yang positif dan negatif yaitu konflik, integrasi, desintegrasi, reintegrasi(Idianto M, 2005 ; 156-167). Pada bagian selanjutnya berisi alternatif pemecahan masalah yaitu asimilasi, self-segregation, integrasi, pluralisme, kemudian sikap yang harus dijalankan(Idianto M, 2005 ;170-171) .
Pembahasan multikulturalisme pada buku pelajaran tersebut cenderung sederhana dan mudah dipahami bagi anak SMA. Secara sistematis, namun bagi yang telah mempelajari sosiologi, mungkin akan mengkritisi. Penyebutan masyarakat majemuk, masyarakat multikultural, masyarakat yang beranekaragam cenderung membiaskan sama. Buku ini menggiring pada pemahaman bahwa masyarakat multikultural atau multikultural ialah yang beranekaragam berbeda-beda. Penjelasan bahwa asimilasi, integrasi, self-segregation, pluralisme sebagai alternatif pemecahan masalah sebenarnya tidak bisa dikatakan tepat, karena hal tersebut merupakan proses bukan merupakan kegiatan, apalagi dalam bagian sebelumnya, dijelakan bahwa masalah yang ditimbulkan akibat keanekaragaman dan perubahan budaya adalah konflik, integrasi, desintegrasi, reintegrasi. Pada bagian terakhir dijelaskan beberapa sikap yang harus dikembangkan dalam masyarakat yang bernekaragam, yaitu toleransi, meninggalkan primordialisme, menegakkan supremasi hukum, nasionalisme, penyelesaian konflik akomodatif, kesadaran sosial. Kemudian dijelaskan gejala yang wajar terjadi dalam msyarakat multikultural yaitu konflik.
Sebagai suatu buku, buku ini sebenarnya cukup baik apalagi dengan salah kaprah yang terjadi bahwa sosiologi cenderung dianggap pelajaran hapalan. Secara materi dapat memberikan pemahaman multikulturalisme, walaupun secara tekstual, akan lebih baik diberikan contoh konkrit dan siswa diberikan contoh terjun langsung.

Pembelajaran multikulturalisme di buku lain
Dalam buku sosiologi untuk kelas Xl karangan Budiyono, pada bab kelompok sosial pada awal pembahasan sebelum masuk ke materi dikatakan; Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat multikultural karena terdiri atas bermacam-macam suku bangsa dengan perbedaan adat istiadat, kebudayaan, agama, sistem sosial, dan bahasa daerah. Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk berpotensi untuk menimbulkan konflik dan persoalan integrasi nasional(Budiyono 2009; 99).
Pembelajaran multikulturalisme di buku-buku pelajaran sosiologi SMA, secara umum menggunakan bahasa ringan dan mudah dipahami. Namun pada pelajaran sosiologi, nampaknya sebaiknya mengajak para siswa agar mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sesuai kebutuhan bangsa.
Dalam konteks pembelajaran multikulturalisme, pelajaran di buku yang membahas multikulturalisme mengajak memahami bahwa bangsa lndonesia bangsa yang majemuk, beragam, perbedaan sosial-budaya, menghargai perbedaan, jangan perbedaan menimbulkan konflik dan berbagai sifat yang mesti dikembangkan.

Perbandingan bahasan multikultural dalam buku
Pada keempat buku tersebut, terdapat kesamaan bahwa yang dibahas adalah masyarakat lndonesia yang beranekaragam, keragaman terdapat pada sosial-budaya, dan bagaimana sikap yang harus dikembangkan. Penjalasan pada buku sepertinya hanya cenderung menghasilkan pandangan pluralisme tidak sampai pada multikulturalisme. Namun sebenarnya, buku pelajaran sosiologi sudah menggambarkan keberagaman lndonesia.
Pendidikan multikulturalisme dalam buku pelajaran pelajaran harus mengandung pesan bagi siswa bahwa dengan kondisi bangsa lndonesia yang multikultural, multikulturalisme merupakan suatu kebutuhan. Guru memiliki peran besar dalam pembelajaran multikulturalisme. Untuk memberikan pemahaman multikulturalisme, guru sebaiknya juga memberikan contoh dalam sikap-sikap. Sehingga hal tersebut membuat siswa memahami, mengerti dan bisa menerpakan multikulturalisme. Peran guru semakin besar dalam memberikan multikluturalisme, terutama pada sekolah yang multikultural, apalagi pada sekolah yang terdapat berbagai etnis, terutama lagi pada sekolah yang pada daerah yang pernah terdapat konflik etnis, seperti Ambon, Palu, Sampit, Sambas.
Untuk mempelajari multikulturalisme dalam pendidikan tidak cukup hanya berdasarkan teori namun juga melalui contoh dalam kehidupan. Bagi para siswa pembelajaran multikulturalisme terutama masyarakat multikultural melalui buku-buku cukup baik meskipun tidak dapat mencapai pemahaman multikulturalisme cenderung hanya pada pluralisme.
Sebaiknya multikulturalisme dalam buku pelajaran
Pada pembelajaran di sekolah buku teks merupakan hal yang penting karena menjadi rujukan dalam proses belajar mengajar. Multikulturalisme dalam pendidikan harus lebih dipahamkan, apalagi indonesia mengalami masalah dalam menyikapi perbedaan. Multikulturalisme harus mampu menjadi kerangka siswa yang paham dalam bertindak. Materi yang berbasis multikulturalisme pada dasarnya sudah banyak dalam pelajaran. Multikulturalisme juga harus dikembangkan sika dalam pendidikan dimana guru memegang peranan penting. Pendidikan multikulturalisme merupakan sarana menjaga multikulturalisme bangsa ke depan.
Penutup
Multikulturalisme diajarkan melalui pendidikan, sehingga dalam pendidikan dalam kerangka multikultural. Multikluturalisme dalam pendidikan di sekolah menjadi kerangka berpikir, bertindak dengan tujuan memberikan pemahaman dan pedoman bersikap bagi siswa dalam kehidupan bangsa yang multikultural. Pendidikan multikulturalisme di sekolah bisa masuk dalam kurikulum melalui pelajaran.
Namun peran pelajaran sosiologi dalam pendidikan multikulturalisme yang paling terlihat dan penting. Pendidikan multikulturalisme disekolah seyogyanya secara mudah, namun bisa dipahami, dilakukan oleh siswa, sehingga siswa setelah mendapat pelajaran multikulturalisme dapat melakukan kehidupan yang multikultural sehingga tujuan jangka panjangnya. Karena melalui pelajaran maka buku pelajaran menjadi hal yang penting.
Multikulturalisme dalam pendidikan di sekolah selain melalui pelajaran juga melalui sikap-sikap, kebijakan. Pelajaran mengenai multikulturalisme dalam berbagai tingkat dari SD sampai SMA. Pada SMA inilih mulai titik tekan, karena sudah dewasa, kritis, mampu bertindak dan berpikir tinggi. Namun pembelajaran mengenai multikulturalisme yang paling terlihat menurut saya ada pada pelajaran sosiologi.
Pada pembelajaran multikultural, isi buku menjadi penting karena menjadi bacaan bagi siswa bagaimana multikulturalisme. Diharapkan siswa memiliki pemahaman multikulturalisme dan mampu, mau bersikap. Diharapkan multikulturalisme di lndonesia dapat berjalan dengan baik sehingga masalah bangsa yang terjadi karena kurangnya multikulturalisme seperti konflik etnis tidak terulang, pelanggaran hak minoritas,

Daftar Pustaka

-Budianto, Melani.2004. Multikulturalisme; In search of a Critical Framework for Assesing Diversity in lndonesia dalam Kamanto, dkk. (2004) Multicultural Education in Indonesia and Southeast Asia: Stepping into the Unfamiliar. Depok-UI: Antropologi Indonesia.
-Semiawan, Conny. 2004. The Chalenge of Multicultural Education in a Pluraristic Society The Indonesian Case dalam Kamanto, dkk. (2004) Multicultural Education in Indonesia and Southeast Asia: Stepping into the unfamiliar. Depok-UI: Antropologi Indonesia.
-Sada, Clarry. 2004. Multicultural Education in Kalimantan Barat ; An Overview dalam Kamanto, dkk. (2004) Multicultural Education in Indonesia and Southeast Asia: Stepping into the Unfamiliar. Depok-UI: Antropologi Indonesia.
-Ahmad Fedyani Saifuddin, 2004. Multicultural Education: Putting School First, ( A Lesson from Education Autonomy Policy Implementation in Indonesia) dalam Kamanto, dkk. (2004) Multicultural Education in Indonesia and Southeast Asia: Stepping into the Unfamiliar. Depok-UI: Antropologi Indonesia.
-Kamanto. 2004. Multikultural Education in School ; Challanges in its Implementasion dalam Kamanto, dkk. (2004) Multicultural Education in Indonesia and Southeast Asia: Stepping into the Unfamiliar. Depok-UI: Antropologi Indonesia.
-Kamanto, dkk. 2004. Multicultural Education in Indonesia and Southeast Asia: Stepping into the Unfamiliar. Depok-UI ; Antropologi Indonesia,
Kurikulum 2004
-M, ldianto. 2005. Sosiologi untuk SMA kelas XI. Jakarta ; Erlangga
Budiyono.2009. Sosiologi untuk SMA dan MA kelas XI. Jakarta ; Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
-Widianti, Wida. 2009. Sosiologi 2 : untuk SMA dan MA Kelas XI IPS. Jakarta ; Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
-Wrahatnala , Bondet. 2009. Sosiologi 2 : untuk SMA dan MA Kelas XI . Jakarta ; Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
-Elisanti, Titin Rostini . 2009. Sosiologi 2 : untuk SMA / MA Kelas XI IPS. Jakarta ; Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
Mulder, Neil. 2000. Indonesian lmages; The culture of the Public World. Yogyakarta; Kanisius
-Parekh, Bhikhu 2008, Rethinking Multikulturalism: Keberagaman Budaya dan Teori Politik (terjemahan), Yogyakarta: Impulse.

lnternet
Web
http://staff.uny.ac.id/dosen/prof-dr-farida-hanum-msi
File PDF
Hanum, Farida.2009. Pendidikan Multikultural Sebagai Sarana Membentuk Karakter Bangsa (Dalam Perspektif Sosiologi Pendidikan). Download via http://staff.uny.ac.id/dosen/prof-dr-farida-hanum-msi
Hanum, Farida. Pentingnya Pendidikan Multikultural dalam Mewujudkan Demokrasi di Indonesia. Download via
http://staff.uny.ac.id/dosen/prof-dr-farida-hanum-msi
Hanum, Farida. 2008. lmplementasi Pendidikan Multikultural dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Download via
http://staff.uny.ac.id/dosen/prof-dr-farida-hanum-msi
Hanum, Farida. Pendidikan Multikultural Dalam Pluralisme Bangsa. Download via
http://staff.uny.ac.id/dosen/prof-dr-farida-hanum-msi
Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sosiologi Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Jakarta ; Departemen Pendidikan Nasional download via www.depdiknas.go.id