Memahami Budaya Lain melalui Makan

Makan merupakan kebutuhan sehari-hari bagi manusia. Manusia tidak dapat hidup tanpa makan. Namun urusan makanan atau kuliner tidak sesederhana yang dibayangkan. Belakangan ini ada isu bahwa sebagian bakso dicampur daging babi hutan, hal ini sempat menjadi isu nasional. Adanya isu ini kemudian merembet ke banyak hal. Para pedagang yang mencampur daging sapi pada bakso dengan daging babi berkilah bahwa hal ini dilakukan karena harga daging sapi yang mahal, memang harga daging sapi melonjak. Mengapa daging sapi naik, karena kurangnya pasokan daging. Kemudian penjualan bakso menurun omsetnya. Adanya isu bahwa bakso mengandung daging babi, kemudian menimbulkan kekhawatiran adanya kemungkinan makanan lain yang tercampur daging babi. Adanya kekhawatiran ini menimbulkan keinginan adanya sertifikasi halal. Dari hal tersebut terlihat bahwa makanan berhubungan dengan banyak hal. Makan terkadang bukan hanya sekedar memuaskan kebutuhan namun bisa memiliki nilai lain. Meskipun makan merupakan kebutuhan pokok manusia, namun makan bagi manusia berbeda-beda, dan sangat berhubungan dengan budaya.

Perbedaan Nilai Budaya dalam Makan

Setiap orang di dunia melakukan makan secara rutin yang disebut makan besar. Makan besar bagi berbagai budaya berbeda-beda. Bila orang barat makan besar sehari tiga kali, pagi, siang, malam, namun pada pagi hari dan setelah malam ditambah makan kecil yang menjadi kebiasaan. Orang lndonesia makan tiga kali sehari, pagi sarapan, siang makan siang, malam makan malam. Yang dimakan dalam makan besar dan menjadi makanan utama biasa disebut makanan pokok. Makan pokok bagi orang dari berbagai negara, bangsa dan budaya berbeda-beda. Di sebagian besar lndonesia adalah nasi, meskipun ada yang masih jagung atau sagu. Di negara barat makanan pokoknya roti atau yang terbuat dari gandum.
Bukan hanya makanan pokok, namun juga makanan kecil dan lauk-pauk, antar bangsa, negara, dan etnik berbeda-beda. Masing-masing memiliki lauk, rasa, masakan dan selera tersendiri. Lidah tidak dengan mudah akan menerima atau menyesuaikan diri dengan kondisi makanan ketika berada di negara lain. Ketergantungan dengan jenis makanan dari daerah asal, sangat terlihat dalam pelaksaan haji, dimana jemaah haji asal lndonesia ketika di Arab Saudi makanan yang dimakan adalah model makanan lndonesia dengan nasi dan lauk-pauk ala lndonesia, kokinyapun dari lndonesia. Orang barat yang biasa makan pokok rotipun akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri ketika tinggal lama di lndonesia.
Cara makan dari berbagai bangsa berbeda-beda. Orang Arab menggunakan tangan, bahkan menjilati jari ketika makan. Bangsa lain umumnya menggunakan sendok, piring dan garpu, sementara orang Cina menggunakan mangkok dan sumpit. Bagi sebagian bangsa lndonesia duduk yang sopan ketika makan adalah dengan bersila, bagi orang Arap duduk dengan mengangkat satu kaki.
Nilai etika dan kesopanan dalam makan, berbeda-beda, sesuai dengan budayanya, ada kalanya sesuatu yang dianggap sopan di suatu budaya dianggap sebaliknya di budaya lain, yang dianggap biasa di suatu budaya dianggap tidak sopan di budaya lain. Orang Arab terbiasa sendawa ketika makan, di Malaysia sendawa ketika makan dapat menunjukkan penghargaan atas makanan, di Fiji sendawa dianjurkan seusai makan untuk menunjukkan penghargaan, di barat sendawa ketika makan dianggap kurang sopan tapi membuang ingus ketika makan dengan kertas atau tisu adalah hal biasa. Orang Japang dan Korea terbiasa menyeruput sub langsung dari mangkoknya, hal tersebut bisa dianggap tidak sopan oleh budaya lain.
Adanya perbedaan suhu, iklim, cara pandang bagi bangsa berpengaruh terhadap budayanya termasuk makan. Di beberapa bagian negara Eropa dan Amerika minum bir dianggap sebagai menghangatkan badan. Di negara Arab yang banyak terdapat daging kambing dan onta, daging kambing menjadi lauk yang paling dominan. Orang Arab terbiasa menyantap lauk daging kambing dalam jumlah besar, bahkan bisa disuatu hidangan lauk yang disajikan bisa satu kambing utuh. Di daerah pegunungan lndonesia, terbiasa menyantap sayuran mentah. Orang Jepang sangat fanatik dan mengkonsumsi ikan dalam jumlah yang besar, bahkan setengah matang atau mentah karena percaya bahwa ikan akan mencerdaskan.

Makanan dan Larangan
Ada beberapa hal yang menghalangi manusia untuk makan semua jenis makanan seperti aturan dalam agama yang dianut misalnya tentang halal-haram, aturan adat, pantangan karena penyakit, alergi, atau penganut ideologi tertentu. Orang lslam dan Yahudi menganggap daging babi haram dan sapi halal, bagi orang Hindu sapi haram, sementara Kristen tidak menganggap haram babi. Bagi orang yang menganut paham vegetarian tidak mau makan semua jenis daging karena beranggapan tidak boleh membunuh hewan. Orang yang mengidap penyakit tertentu dilarang makan beberapa jenis makanan. Yang memiliki alergi tidak akan makan.
Pandangan lain menilai makanan juga berkaitan dengan jijik atau tidak jijik. Menurut Mulyana, (2008; 59) apakah kita akan berselera terhadap suatu jenis makanan atau akan jijik, bergantung pada nilai-nilai yang telah kita internalisasi. Bekicot di banyak negara termasuk di lndonesia menjadi hewan yang menjijikkan, namun di Prancis menjadi makanan mahal. Orang barat menganggap jeroan sebagai makanan anjing, namun di lndonesia jeroan dapat diolah menjadi makanan enak. Daging ular, buaya, landak, cacing bagi sebagian orang jijik namun ada juga yang memakannya.

Makanan dan ritual
Makan juga memiliki hal unik. Makanan berkaitan dengan simbol, misalnya ketika lebaran biasanya mamasak ketupat. Dalam beberapa hal makanan juga mempunyai nilai ritual, misalnya ketika diadakan gunungan dalam rangka grebek di kraton Yogyakarta dan Surakarta, masyarakat yang percaya bahwa makanan itu membawa berkah saling berebut mendapatkannya. Ketika umat islam memperingati hari raya kurban terjadi penyembelihan sapi dan kambing dalam jumlah besar, ketika itu daging sapi dan kambing menjadi lauk yang dominan.

Variasi Makanan Suku Bangsa di lndonesia

Negara Indonesia memiliki beragam suku bangsa, perbedaan geografis. Bila dianalisis rasa makanan bisa digunakan untuk menafsirkan, menganalisis dan melihat sifat dan budaya suku bangsa penganutnya, misalnya suku Jawa memiliki selera rasa manis, mencerminkan sifat orang Jawa yang manis, halus, lemah-lembut tapi menyimpan sesuatu di belakang.
Banyaknya rumah makan padang di seluruh lndonesia menggambarkan bahwa masakan padang dapat diterima lidah secara umum. Selain itu juga menggambarkan penerimaan terhadap suku Minangkabau, dimana suku Minangkabau relatif dapat berelasi baik dan jarang berkonflik dengan suku bangsa lain. Orang Minangkabau yang merantau salah satunya menjadi pengusaha karena dorongan adat dalam budaya Minangkabau yang matrilineal dimana kekuasaan ada pada pihak perempuan, mendorong kaum lelaki untuk pergi keluar daerah. Banyaknya orang Minangkabau yang berdagang termasuk bidang restoran menggambarkan jiwa suku minang yang merdeka, bebas dan egaliter.
Orang Madura banyak yang berjualan sate, dimana sate adalah makanan yang dibakar sehingga tidak terlalu matang, menggambarkan suku madura yang cenderung keras dan tidak terlalu berpikir panjang.
Makanan berkaitan erat dengan suku bangsa atau etnik, setiap etnik memiliki makanan khas. Indonesia memiliki beragam etnis, setiap etnis memiliki makanan khas. Beberapa makanan etnik cukup terkenal. Tidak semua makanan khas populer dan familiar, bahkan bagi etniknya sendiri.
Yogyakarta menjadi tujuan berbagai suku bangsa yang ada di lndonesia. Oleh karena itu banyak rumah makan yang menggunakan ciri khas daerah, seperti Aceh, Banjar, Makasar, Manado, Betawi, Cina, Bangka, dll. Rumah makan itu menggunakan ciri khas etnik, suku bangsa atau kedaerahan sebagai deferensial, kekhasan dan sebagai cara menarik pengunjung. Pengunjung rumah makan beridentitas suku atau etnik ada yang berasal dari daerahnya sebagai nostalgia terhadap daerah asalnya dan ada juga yang ingin mencoba makanan dari etnik lain. Rumah makan etnik itu juga melakukan penyesuaian dimana bumbu dan resepnya tidak sebagaimana aslinya namun menyesuaikan dengan ketersediaan.

Memahami Kebudayaan Etnik Lain Melalui Makanan

Makan merupakan kebutuhan pokok manusia, tanpa makan, manusia tidak akan bertahan hidup, namun masing-masing suku, bangsa, suku bangsa, negara memiliki kebiasan makan yang berbeda, makanan yang berbeda, cara pandang, nilai etika dan kesopanan yang berbeda dalam makan, sehingga mencerminkan budaya yang berbeda. Melalui makanan yang berbeda antar etnik, dapat melihat bahwa kebudayaan antar etnik berbeda.
Dengan melihat bahwa rasa, bentuk, jenis makanan merupakan hal yang relatif, maka dapat merasakan bahwa kebudayaan juga relatif. Budaya memang relatif tidak bisa dilihat lebih tinggi, lebih rendah, baik atau buruk, budaya etnik satu tidak lebih rendah atau lebih tinggi dari etnik lain.
Ingin mencoba makanan dari etnik lain, seyogyanya juga diikuti dengan ingin mempelajari budaya dari etnik lain, memahami makanan dari etnik lain dapat mengilhami memahami budaya etnik lain. Dengan saling memahami, mencoba dan merasakan kuliner dari berbagai etnik diharapkan dapat digunakan sebagai pembelajaran multikultural. Dengan demikian makanan dapat menjadi diplomasi budaya antar etnik, tentu saja dengan tetap menghargai pantangan dan larangan.