Konflik dan Agama

Konflik merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan manusia terutama dalam hubungan sosial. Konflik secara mudah diartikan sebagai pertentangan. Secara sosiologis konflik diartikan sebagai proses sosial antara dua orang atau lebih(atau kelompok) dimana mereka saling berusaha menyingkirkan dengan menghancurkan atau membuat tidak berdaya. Seorang manusia tidak mungkin hidup tanpa pernah berkonflik. Akar penyebab konflik adalah perbedaan. Konflik adalah bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sosial. Beberapa ahli berpandangan bahwa sejarah manusia adalah sejarah konflik, namun bukan berarti konflik termasuk di dalamnya kekerasan hanya dibiarkan begitu saja karena secara psikologi manusia mendambakan kehidupan damai dan harmoni.
Sejarah konflik manusia bisa terlihat dalam pembunuhan pertama yang dilakukan oleh manusia di bumi yang terjadi pada dua putra Nabi Adam AS yakni Qabil dan Habil. Ketika itu Qabil tidak terima dengan ketetapan bahwa Habil mendapatkan calon istri yang lebih cantik. Qabil dengki sehingga membunuh Habil. Peristiwa ini diisyaratkan dalam QS. Al-Maidah;30
Dewasa ini banyak terjadi praktek kekerasan mengatasnamakan agama. Peristiwa paling dahsyat yakni pembe
[one_fifth_last]rontakan di Suriah. Para pemberontak Suriah berdalil melawan presiden Basyar Al-Assad yang beraliran Syiah Nushairiah yang sesat dan berbuat dhalim pada kaum Ahlus Sunah. Peperangan ini sangat dahsyat hingga menarik para mujahidin dari berbagai belahan dunia dengan tarikan bahwa perang di Suriah adalah perang akhir zaman. Peperangan ini masih berlangsung hingga kini dengan korban yang terus berjatuhan. Kemudian muncul juga peperangan antar kelompok/faksi pemberontak Suriah karena perbedaan paham. Yang paling menghebohkan adalah munculnya ISIS. ISIS yang semula hanya salah satu faksi pemberontak menjelma menjadi kekuatan penting yang memerangi pemerintahan Suriah dan sesama faksi mujahidin. ISIS kemudian mendeklarasikan diri sebagai kekhalifahan islam dan tidak segan-segan memerangi kelompok yang berbeda dengan dalih tidak mengakui kepemimpinannya. ISIS juga ditenggarai melakukan kekejaman. Peristiwa baru-baru ini yaitu penyerangan terhadap pemberontak Houti Yaman oleh Arab Saudi dan koalisi negara-negara teluk juga dibumbui dengan alasan aliran keagamaan dimana digunakan dalih memerangi Houti yang menganut paham syiah yang sesat. Uniknya pemberontak Houti bersekutu dengan loyalis dan tentara yang setia pada mantan presiden Ali Abdullah Saleh yang dulu mereka gulingkan.
Dalam berbagai konflik, agama kadangkala disebut sebagai penyebab dan pemicu terjadinya konflik. Agama seolah menjadi alasan pembenaran adanya konflik. Bahkan agama seolah-olah dijadikan surat izin membunuh karena perbedaan paham. Pada kenyataannya agama hanya menjadi faktor pembenaran atau legitimasi atas konflik yang terjadi karena faktor persaingan etnis, politis dan ekonomi. Ada beberapa hal yang menyulut terjadinya konflik agama yaitu al-ta`ashub yakni fanatisme berlebihan, al-ghuluw yakni berlebihan/ekstrim, al sukhriyah wa al-tanabuz bil Alqab yakni saling merendahkan dan memberi label negatif, su`udzan yakni buruk sangka dan curiga, dan al-zhulm yakni kezaliaman. Paham ekstrem(al ghuluw wa al-tatharruf) mendorong seseorang menjadi bertindak keras, tidak toleran dan anti perdamaian terhadap yang berbeda. Untuk mengatasinya perlu lebih mendalami ajaran agama yang sebenarnya.
Sejatinya lslam mendeklarasikan sebagai agama rahmatan lil alamin(QS: Al-Anbiya 107). Praktek keseharian yang dicontohkan Nabi SAW menunjukkan lslam sebagai agama yang humanis, toleran dan berkeadaban. Rasullullah juga memberikan contoh pada peristiwa Fathul Makkah. Beliau menunjukkan sikap yang humanis, tidak ada balas dendam dan memaafkan orang Mekah yang dulu memusuhi beliau. Islam mengajarkan untuk menjaga darah dan kehormatan manusia, bahkan hewan dan tumbuhanpun dilindungi.